Pengurus Rayon Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI) Universitas Islamm Zainul Hasan (UNZAH) Kraksaan Probolinggo mengadakan kegiatan Sekolah Islam dan Gender (SIG) ke-1 dengan tema Menapak Keseteraan Gender Tanpa Bias di Tengah Arus Globalisasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan hari kamis, selama 2 hari mulai tanggal 14 hingga 15 Mei 2026, bertempat di Aula MWCNU Krejengan, Probolinggo.

KOPRI (Korps PMII Putri) merupakan wadah semi otonom dari PMII yang mempunyai tujuan agar perempuan tahu mengenai isu-isu gender dan sebagai jawaban atas problema yang terjadi sekarang ini dan pencerah bagi kalangan remaja dan mahasiswa sekitar,” ungkap Faridatun Nur Aini, Ketua Kopri PMII Rayon H.O.S Tjokroaminoto UNZAH itu.

Ketua panitia kegiatan, Adelia mengatakan, dengan diadakannya kegiatan SIG oleh Rayon Kampus Berbasis Pesantren ini merupakan suatu hal yang sangat spesial, karena menurutnya, SIG kali ini merupakan yang pertama kalinya diadakan oleh Pengurus Koprs PMII Putri Rayon HOS Tjokroaminoto, Kraksaan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

Menurut mahasiswa UNZAH asal Gading tersebut, Gender bukanlah suatu ilmu, melainkan cara atau metode untuk menjawab masalah yang terkait dengan ketidakadilan hak laki-laki dan perempuan.

Adel, sapaan akrab Laili Adelia Firdausiah berharap acara ini dapat memahamkan kader PMII baik laki-laki maupun perempuan tentang adanya gender dan keadilan gender. Menurutnya, yang dimaksud keadilan itu tidak harus sama tetapi sesuai dengan hak yang tidak merugikan.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan banyak tokoh, kiai, akademisi dan teknorat pemerintah dan lainnya.

Ratusan Peserta kegiatan merupakan utusan dari setiap komisariat di bawah naungan Universitas Islam Zainul Hasan Kraksaan, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PC PMII) Probolinggo, Komisariat Ekonomi PMII Universitas Negeri Surabaya UNESA, Komisariat PMII STKIP Situbondo, Rayon Nusantara Universitas Nurul Jadid Paiton, Komisariat STIH Zainul Hasan Kraksaan.

“Perlu diketahui PMII UNESA Surabaya mengirim lima kader terbaiknya guna mengikuti kegiatan SIG ini, dan dipahami juga, SIG merupakan proses kaderisasi di tubuh perempuan PMII. Meskipun jenjang kaderisasi perempuan, kami membuka kesempatan untuk kader laki-laki mengikuti kegiatan karena dipandang sangat penting menjaga stabilitas keadilan gender agar lebih seimbang,” kata Rizqi Qurrota A’yun dkk selaku Senior PMII Unesa Surabaya yang mendampingi kadernya, di tempat Kegiatan SIG, Kamis (14/5/2026).

Pihaknya berharap, semoga dengan kegiatan SIG tersebut, peranan Korps PMII Puteri Rayon HOS Tjokroaminoto mampu menjawab isu-isu strategis dan tantangan nasional maupun global yang berkaitan dengan isu-isu gender, serta dapat menumbuhkan pemahaman kepada seluruh anggota dan kader PMII UNZAH, UNESA dan kader lainnya mengenai paham Gender.

“Selamat mengikuti prosesnya dari awal hingga akhir, semoga bisa berjalan lancar dari awal hingga akhir dan bisa terus mengadakan SIG selanjutnya, karena tetap pada slogan kita dan semangat kita sekali tangan terkepal disitulah kita melawan,” ujarnya.

Demisionir Ketua Kopri PMII UNZAH, Faiqotun Munawwarah menyampaikan, perempuan maupun laki-laki diminta mengubah cara pikir, bahwa, kekuasaan laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.

“Sekarang sudah saatnya kita mengubah mindset kita. Kaum laki-laki juga sudah saatnya mengubah mindset mereka. Budaya patriarki itu harus kita buang sedikit demi sedikit, karena saat ini zaman terus berubah,” jelas Sahabati Faiq.

Lailatul Qomariah menuturkan, teknologi dan sains pun terus berkembang dan bergerak ke arah kemajuan. Oleh karenanya, di era global ini, perempuan dituntut untuk juga bekiprah dan maju. Menurutnya, suatu negara baru bisa disebut maju jika para perempuannya berpikir maju. Sebaliknya, suatu negara tidak akan bisa menjadi negara maju jika perempuan tak mau berkembang.

“Jadi, perempuan menjadi indikator utama dalam memajukan suatu bangsa,” tutur Dia.

Laila menjelaskan, baik perempuan maupun laki-laki harus berjalan beriringan. Tempat perempuan bukan di belakang laki-laki, melainkan keduanya sejajar. Istilah yang mengatakan bahwa perempuan hebat ada di balik seorang laki-laki tidaklah benar.

“Sebab, perempuan seharusnya berdiri sejajar di samping laki-laki, bukan di belakang. Bukan seorang laki-laki yang hebat di belakangnya ada perempuan hebat, perempuan tidak setuju kalau di belakang posisinya, harus di samping,” tandas ia.

Ia juga menerangkan, Kopri merupakan badan semi otonom PMII yang merupakan organisasi kader, secara otomatis mempunyai tanggung jawab dalam mencetak kader-kader yang berkualitas. Kualitas itu berupa intelektualitas, kemampuan, dan kreatifitas yang harus dimiliki kader-kader perempuan PMII.

“Sesuai yang dicita-citakan organisasi, serta dapat memberikan penyadaran bahwa pemahaman Islam dan Gender sangat dibutuhkan oleh anggota PMII Puteri, agar peka dan sensitif Gender terhadap permasalahan perempuan,” terang Dia.

Dosen Universitas Islam Zainul Hasan Kraksaan Probolinggo, Robby Zidni Ilman juga mengatakan dalam forum. “Menumbuh kembangkan kader perempuan untuk berperan aktif di organisasi yang lebih luas, dan SIG adalah bagian dari proses Candra dimuka bagi ruang kader perempuan yang punya peran besar pembangunan negeri,” kata Dia.

Wildana sebagai Ketua Komisariat PMII UNZAH, turut menjelaskan, Kegiatan SIG yang dilaksanakan adalah bentuk kegiatan kaderisasi di wilayah Kopri, walaupun memang lebih diwajibkan untuk kader perempuan tetapi laki-laki juga dianjurkan mengikuti SIG.

Lanjutnya, SIG  sudah mulai diwacanakan  pada tahun 2025 di kopri dibawah naungan UNZAH, tetapi baru terealisasikan saat ini,  dan Kegiatan SIG ini adalah yang perdana di tingkat Rayon HOS Tjokroaminoto UNZAH, Kraksaan.

“Tahun ke tahun  PMII Probolinggo sudah mulai maju dan melek dalam hal kaderisasi, makanya dari Cabang selalu mendorong di setiap komisariat untuk melakukan Kaderisasi baik itu PKD atau SIG secara mandiri,” jelasnya.

Ketua KOPRI , Faridatun juga menyampaikan, menurut pendapatnya, terselenggaranya SIG sangat mengapresiasi. Pasalnya, Ini kali pertama KOPRI RAYON PMII UNZAH menyelanggarakan kaderisasi formal.

“Karena ini adalah bentuk dari kesadaran dan kewarasan sahabat-sahabat KOPRI untuk merawat kaderisasi,” terangnya.

Lanjut Dia, SIG merupakan kaderisasi formal yang harus di ikuti oleh kader PMII dan Kopri untuk menjadi kader MUTAKID, yakni, anggota yang memiliki loyalitas atau kesetiaan terhadap organisasi dan peka terhadap Islam ramah perempuan, isu-isu gender dan sensitifitas gender di lingkungan sekitar, khusus nya lingkungan PMII.

“tujuan dari Sekolah Islam dan Gender merupakan salah satu kaderisasi formal yang harus ditempuh oleh kader-kader PMII khususnya bagi KOPRI itu sendiri, yang mana itu merupakan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga adil gender akan mulai tertanam sejak dalam fikiran, sehingga kedepannya tidak akan lagi adanya ketimpangan-ketimpangan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan,” jelas Ristiani.

Ia menambahkan, melihat dari konstruksi sosial bias Gender itu sering terjadi pada perempuan, maka dari itu, banyak yang mengartikan Gender hanyalah milik perempuan padahal tidak. Jika di survei, bias gender itu tidak hanya terjadi pada perempuan saja tetapi pada laki-laki pun bisa, bias gender dapat terjadi layaknya laki-laki yang merasa terdiskriminasi, ketimpangan, kekerasan, dan lain sebagainya itu bisa dikatakan sebagai bias gender.

Secara garis besar, kegiatan Sekolah Islam dan Gender dilakukan dengan forum diskusi interaktif agar setiap peserta mendapatkan hak menyampaikan pendapat. Di sela-sela waktu selesai materi, peserta melakukan focuss group discussion agar apa yang telah disampaikan oleh narasumber dapat dikembangkan kembali berdasar pemikiran masing-masing. Hal itu juga diharapkan agar kader-kader Kopri dapat selalu memperluas khazanah keilmuan di samping mempertajam nalar berfikir.