Oleh: Lukman Sumardi*
Perkembangan peradaban manusia tidak hanya ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh perubahan cara hidup yang memengaruhi hampir seluruh aspek kebudayaan, termasuk tradisi kuliner.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan makanan yang semakin beragam. Restoran cepat saji, waralaba internasional, kafe dengan konsep modern, hingga makanan viral yang dipromosikan melalui media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kontemporer.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kuliner bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan telah berkembang menjadi simbol gaya hidup, identitas sosial, bahkan bagian dari industri kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Namun, di balik pesatnya perkembangan tersebut, muncul kekhawatiran akan semakin terpinggirkannya kuliner tradisional yang selama berabad-abad menjadi bagian dari identitas budaya bangsa Indonesia.
Dalam perspektif budaya, makanan tidak pernah dipahami hanya sebagai sesuatu yang dikonsumsi untuk menghilangkan rasa lapar. Kuliner merupakan representasi nilai-nilai budaya yang lahir dari perjalanan sejarah suatu masyarakat.
Setiap makanan tradisional menyimpan cerita mengenai hubungan manusia dengan alam, sistem sosial, kepercayaan, hingga nilai-nilai filosofis yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, ketika masyarakat menikmati makanan tradisional, sesungguhnya mereka sedang menghidupkan kembali memori kolektif tentang identitas, sejarah, dan kebudayaan yang membentuk kehidupan mereka.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan kuliner terbesar di dunia. Keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan kondisi geografis melahirkan ribuan jenis makanan tradisional yang memiliki cita rasa, teknik pengolahan, serta filosofi yang berbeda-beda.
Di berbagai daerah khususnya di Probolinggo masih dapat ditemukan aneka kuliner tradisional seperti ketan, lupis, rujak, cenil, lepet, tiwul, getuk, pecel, papeda, hingga berbagai jajanan pasar yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Makanan-makanan tersebut bukan hanya mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil alam, tetapi juga menggambarkan nilai kebersamaan, gotong royong, kesederhanaan, serta penghormatan terhadap lingkungan.
Ketan, misalnya, tidak hanya dikenal sebagai makanan berbahan dasar beras ketan, tetapi juga memiliki makna simbolik sebagai perekat persaudaraan dan keharmonisan sosial. Dalam berbagai tradisi masyarakat Nusantara termasuk di Probolinggo, ketan sering disajikan pada acara syukuran, peringatan keagamaan, maupun ritual adat sebagai simbol kuatnya ikatan kekeluargaan.
Demikian pula dengan lupis yang pembuatannya membutuhkan proses panjang dan ketelitian, sehingga mencerminkan nilai kesabaran, kerja sama, dan penghargaan terhadap proses. Sementara itu, rujak dengan perpaduan rasa manis, asam, pedas, dan gurih melambangkan keberagaman kehidupan yang tetap dapat menyatu dalam harmoni.
Nilai-nilai semacam inilah yang menjadikan kuliner tradisional sebagai warisan budaya yang memiliki makna jauh lebih dalam daripada sekadar makanan. Sayangnya, keberadaan kuliner tradisional saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Arus globalisasi telah menghadirkan berbagai budaya kuliner dari berbagai negara yang dengan cepat diterima oleh masyarakat melalui kekuatan media massa dan media digital. Makanan modern dipromosikan dengan strategi pemasaran yang menarik, kemasan yang estetik, pelayanan yang praktis, serta didukung oleh jaringan bisnis yang kuat.
Pada sisi yang lain, banyak kuliner tradisional masih dipasarkan secara sederhana dan belum mampu bersaing dalam aspek promosi maupun inovasi. Akibatnya, sebagian masyarakat, terutama generasi muda, mulai lebih mengenal makanan asing dibandingkan makanan tradisional yang berasal dari daerahnya sendiri.
Perubahan gaya hidup juga turut mempercepat pergeseran pola konsumsi masyarakat. Kehidupan modern menuntut segala sesuatu berlangsung secara cepat dan praktis.
Kuliner tradisional adalah cermin perjalanan sejarah, simbol kebersamaan, dan wujud kearifan lokal yang telah membentuk karakter bangsa selama berabad-abad. Oleh karena itu, pelestarian kuliner tradisional harus dipandang sebagai investasi budaya yang tidak hanya bermanfaat bagi generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Bangsa yang mampu mempertahankan tradisi kulinernya di tengah perubahan zaman adalah bangsa yang berhasil menjaga jati dirinya, sekaligus membuktikan bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan berdampingan dalam harmoni budaya yang dinamis.
*Ketua LESBUMI PCNU Kraksaan

