GENDING. nukraksaan.or.id— Hari ini, Fatayat NU Kraksaan memulai kegiatan Road Show to Pesantren dengan titik pertama di Pondok Pesantren Roudhotul Hasaniyah, Jatiadi, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan (bullying).

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus PC Fatayat NU Kraksaan, di antaranya Ning Millah Qoyyimah, sekaligus Pengasuh PP Mambaul Ulum Paiton; Siti Mahmudah, Wakil Sekretaris II; Etik Mahmudatul Himma, Koordinator Bidang Hukum dan Advokasi; serta Diana Nabila dari Bidang Ekonomi dan Koperasi.

Dalam sambutannya, Ning Millah Qoyyimah mengajak para santri untuk berani memutus mata rantai bullying dalam bentuk apa pun. “Katakan BIG NO pada bullying!” menjadi pesan tegas yang mengingatkan bahwa setiap santri berhak tumbuh, belajar, dan berkembang tanpa rasa takut.

Kegiatan ini juga mendapat sambutan hangat dari pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Hasaniyah, Gus Abdul Muis, S.Pd., dan Ning Muniha. Keduanya berharap kegiatan sosialisasi dan seminar seperti ini dapat menjangkau lebih banyak pondok pesantren, sehingga semakin luas pula kesadaran santri tentang pentingnya membangun pergaulan yang sehat, saling menghormati, dan penuh kasih sayang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

Mengusung tema “1000 Santri Berdedikasi, Tanpa Takut Tanpa Bullying”, seminar ini diikuti sekitar 40 santri yang menunjukkan antusiasme tinggi. Materi disampaikan secara interaktif melalui role play, diskusi problem solving, serta refleksi melalui Pohon Masa Lalu yang berisi tindakan bullying yang pernah dilakukan dan Pohon Masa Depan yang menggambarkan komitmen untuk berbuat baik serta menjauhi segala bentuk perundungan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Ikrar Komitmen Santri Anti-Bullying, sebagai wujud kesungguhan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang ramah, aman, dan saling menguatkan.

Melalui Road Show to Pesantren ini, Fatayat NU Kraksaan berharap lahir semakin banyak santri yang tidak hanya berilmu dan berakhlak, tetapi juga berani menghentikan perundungan, peduli terhadap sesama, serta menjadi bagian dari perubahan positif.

Karena pesantren seharusnya menjadi rumah bagi tumbuhnya ilmu, akhlak, dan persaudaraan—bukan tempat tumbuhnya rasa takut.