Surabaya, Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Santri Next’ di Hotel Mercure Grand Mirami Surabaya, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan dalam rangka menyemarakkan Hari Santri 2026 ini mengusung tema ‘Gerbang Baru Nusantara: Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur’. Acara ini dihadiri langsung Plh. Ketua PWNU Jatim KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman, Jember. Selain itu, turut hadir sejumlah narasumber, meliputi Kepala BPKAD Jatim Ir. Mohammad Yasin, M.Si, Direktur Jenderal Pesantren Kemenag RI Dr. KH. Basnang Said, M.Ag, Kapus Strategi Kebijakan Pembangunan Kemenag RI Ahmad Zainul Hamdi, dan novelis best seller Hati Suhita, Ning Khilma Anis.
Ketua PW ISNU Jatim , H. M Afif Hasbullah, menegaskan bahwa santri harus mengambil peran strategis dalam menentukan arah perubahan dan pembangunan peradaban. Menurutnya, santri selayaknya tidak cukup hanya menjadi penonton, tetapi harus mampu menghadirkan pemikiran, gagasan, inovasi, hingga gerakan nyata di berbagai sektor kehidupan.
“Sebagai santri, kita mesti harus senantiasa memegang peran strategis, memegang kendali, apakah itu dari sisi pemikiran, gagasan ide hingga langkah gerak. Itu adalah santri yang mewarnai,” ujarnya.

Ia menambahkan, generasi saat ini hendaknya tidak terjebak sebagai penikmat yang melupakan perjuangan para pendahulu. Sebaliknya, santri dan kader NU harus terus merawat nilai perjuangan para pendiri bangsa dan muassis NU, termasuk Rais Akbar Hadratus Syaikh KH. Moh. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah. “Jangan sampai kita tercerabut dari akar bagaimana fondasi negara ini didirikan, kemudian Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini didirikan dan bagaimana pemeranan para santri ini sebagaimana digagas diharapkan oleh Hadratussyekh KH. M Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah dan seluruh muassis Jamiyah Nahdlatul Ulama,” tuturnya. Dirinya menilai sumber daya manusia di lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. Diaspora warga NU telah tersebar hingga berbagai negara dan pusat peradaban intelektual dunia.

“Potensi tersebut perlu dioptimalkan agar santri dapat mengambil peran lebih luas di berbagai bidang,” ungkap Afif. Ia turut menyoroti visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Menurutnya, visi tersebut membutuhkan dukungan pemikiran, sumber daya manusia, serta kerja nyata dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pesantren. “Saya mengajak warga NU dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung program pemerintah serta memaksimalkan potensi daerah. Berbagai keunggulan Jawa Timur perlu dioptimalkan melalui kolaborasi lintas sektor agar mampu memperkuat kontribusi daerah terhadap pembangunan nasional,” tegasnya. Ia juga mendorong agar hasil diskusi menghasilkan gagasan segar yang selaras dengan program Pemerintah Provinsi Jatim maupun pemerintah kabupaten dan kota. Sinergi tersebut diharapkan dapat membuka ruang inovasi bagi kalangan santri, akademisi, peneliti, birokrat, legislator, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. “Semoga forum ini tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi menghasilkan pemikiran yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat peran santri dalam memimpin perubahan dan membangun peradaban,” pungkasnya.
”Kita ini jangan lagi bicara banyak-banyakan jumlah. Karena kalau soal itu, kita sudah menang. Tapi kalau soal kualitas SDM, jujur saja, kita masih jauh tertinggal,” kata Kepala Pusat pada Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag Ahmad Zainul Hamdi membuka diskusi.

Zainul menyebut, warga NU adalah mayoritas di Indonesia. Namun, sebagai mayoritas, kemampuan warga NU dalam mengupgrade diri masih terbatas.
Saat ini, mayoritas warga NU mengantongi pendidikan maksimal tingkat SMA sederajat dan SMP.
Minimnya derajat pendidikan itu, kata Zainul, berimplikasi pada tingkat kesejahteraan warga NU. Baru 8,6 persen warga NU yang masuk kategori kelas atas secara pendapatan. Sementara untuk kelas menengah, jumlahnya warga NU tercatat 35,9 persen.
Dan sebanyak 37,5 persen warga NU masih kategori kelas menengah bawah. Sementara 18 persen diantaranya tercatat sebagai warga dengan pendapatan ekonomi kelas bawah.
Persentase warga NU masuk kategori kelas menengah bawah dan bawah jauh lebih tinggi. ”Bahkan tertinggal lebih jauh lagi dari warga Muhammadiyah,” kata Zainul.
Kurangnya kualitas SDM dan ketertinggalan kesejahteraan ekonomi warga NU ini terjadi karena banyak sebab.
Misalnya, minimnya lembaga pondok pesantren dan pendidikan Islam di Indonesia yang memperkuat pengajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Bagi Zainul, pendidikan dan keilmuan agama sangat penting bagi sikap santri. Namun, tanpa adanya penguatan pada STEM, lulusan santri tak akan bisa berkembang dan kompetitif.
”Jadi lulusan pesantren jangan lagi kuliah di UIN-UIN itu. Apalagi ngambil jurusan tarbiyah,” celetuk Zainul yang disambut tawa peserta FGD.
Boleh ambil kuliah di UIN. Tapi, harus ambil jurusan sains dan teknologi. Bukan lagi ambil jurusan keagamaan. ”Percaya pada saya. Soalnya yang ngomong ini dosen UIN,” kata Zainul.
Sementara itu, kehadiran Ning Khilma Anis, seorang penulis yang dikenal melalui karya-karya berlatar kehidupan pesantren, menjadi salah satu bagian menarik dalam forum tersebut. Perspektifnya sebagai penulis memberikan ruang refleksi mengenai kekuatan literasi, narasi, dan budaya pesantren dalam membangun pengaruh serta menjawab tantangan generasi masa kini.
Melalui diskusi ini, pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama dan pembentukan karakter, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang adaptif, inovatif, menguasai teknologi, serta memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan.
ISNU Kabupaten Probolinggo mendelgasikan empat pengurus diantaranya, Masrur Ghazali, M.Pd, Noer Haliza, S.Pd., Dr. Robby Zidni Ilman ZF, M.Ag dan sahabat Hamid, S.Pd mereka bukan hanya hadir tetapi berpartisipasi dalam menjadi bagian dari upaya memperkuat peran sarjana Nahdlatul Ulama agar mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan profesionalisme dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar forum diskusi, FGD Santri Next menjadi pengingat bahwa santri memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Dengan bekal ilmu, karakter, dan semangat pengabdian, santri diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam mewujudkan masa depan Jawa Timur yang lebih maju.
Santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus hadir sebagai penggerak inovasi dan pelaku transformasi. Dari pesantren, lahir gagasan. Dari ilmu, tumbuh perubahan. Dan dari pengabdian, terwujud kemajuan bagi masyarakat.


