KREJENGAN. nukraksaan.or.id – Maulid Nabi Muhammad SAW tidak selalu harus dirayakan di masjid, pesantren, atau gedung-gedung besar. Di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Krejengan memilih cara berbeda: menjemput Maulid dan membawanya langsung ke rumah-rumah warga dhuafa.
Program tersebut dikemas melalui Safari Maulid di rumah Dhuafa (SMD) yang digelar oleh MWCNU Krejengan bersama LAZISNU MWCNU Krejengan dan pengurus ranting NU. Kegiatan ini menjadi perpaduan antara syiar keagamaan, silaturahmi, sekaligus gerakan kepedulian sosial masyarakat.
SMD tahun 2026 telah dimulai sejak 26 Agustus 2026 dan akan berkeliling ke seluruh ranting NU di Kecamatan Krejengan. Sebanyak 21 ranting NU menjadi bagian dari rangkaian safari tersebut.
Untuk menjangkau seluruh wilayah, kegiatan dibagi menjadi empat kelompok atau tim. Masing-masing tim bergerak mengunjungi ranting-ranting yang telah ditentukan dalam jadwal. Setiap tim tidak hanya terdiri dari unsur MWCNU, tetapi juga melibatkan lembaga dan Badan Otonom (Banom) NU, di antaranya Ansor, Fatayat, Muslimat serta unsur kepengurusan ranting setempat.

Dengan konsep tersebut, SMD bukan hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan struktur organisasi NU dengan masyarakat di tingkat paling bawah.
Ketua MWCNU Krejengan, KH. Syamsul Arifin, menyebut Safari Maulid sebagai bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan NU dengan jamaah dan masyarakat.
“Safari Maulid ini bukan sekadar kegiatan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kita ingin hadir langsung di tengah masyarakat, menyapa jamaah, bersilaturahmi, dan berbagi kebahagiaan bersama warga dhuafa,” ungkapnya.
Semangat tersebut sejalan dengan gerakan NU yang selama ini dibangun melalui LAZISNU. Ketua LAZISNU MWCNU Krejengan, Ustadz Moh. Zainul Hovi, mengatakan bahwa Safari Maulid Dhuafa merupakan bentuk nyata konsep turba atau turun ke bawah.
Menurutnya, NU tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan-kegiatan besar. Kehadiran NU justru harus dirasakan sampai ke rumah-rumah masyarakat.
“Langkah awal kami adalah menyapa jamaah di akar rumput. NU harus semakin dekat dengan umat. Karena itu, Maulid kita jemput dan kita hadirkan di rumah-rumah warga dhuafa,” ujarnya.
Dalam setiap kunjungan, jamaah bersama-sama membaca shalawat, berdoa, mendengarkan tausiyah, serta meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penyaluran bantuan sosial kepada warga dhuafa yang menjadi tuan rumah.
Bantuan tersebut salah satunya bersumber dari gerakan infak dan sedekah masyarakat melalui Koin NU. Dengan demikian, gerakan kecil yang dihimpun dari masyarakat kembali disalurkan untuk masyarakat.
Konsep ini sekaligus memperlihatkan bagaimana gerakan filantropi NU dibangun dari bawah. Koin yang dikumpulkan jamaah melalui ranting menjadi energi sosial yang kemudian dikembalikan dalam bentuk kepedulian kepada warga yang membutuhkan.
Lebih dari itu, Safari Maulid di rumah Dhuafa ini menjadi ruang kolaborasi berbagai unsur dalam tubuh NU. MWCNU, lembaga, Banom, dan ranting bergerak bersama dalam satu agenda: menghadirkan nilai-nilai kasih sayang Rasulullah SAW dalam kehidupan masyarakat.
Rangkaian Safari Maulid Dhuafa akan mencapai puncaknya pada Senin, 7 September 2026, di Ranting Sumberkatimoho. Pada momentum tersebut, seluruh tim SMD akan berkumpul dalam satu kegiatan bersama, yang akan dihadiri oleh Pengurus PCNU Kraksaan, Pengurus Lazisnu PCNU Kraksaan serta Bupati dan Wakil Bupati Kab. Probolinggo sesuai agenda tahun-tahun kemarin
Puncak kegiatan tersebut diharapkan menjadi penegasan bahwa gerakan NU di tingkat desa tidak hanya berbicara tentang struktur organisasi, tetapi juga tentang bagaimana agama diterjemahkan menjadi kepedulian nyata
Dari rumah sederhana warga dhuafa, shalawat bergema. Dari Koin NU yang terkumpul sedikit demi sedikit, bantuan disalurkan. Dan dari kolaborasi para pengurus, lahir sebuah gerakan sosial yang terus menyapa masyarakat.
Safari Maulid Dhuafa MWCNU Krejengan pada akhirnya bukan hanya tentang memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi tentang bagaimana meneladani kasih sayang beliau: hadir, menyapa, berbagi, dan peduli kepada sesama.
Sebuah ikhtiar sederhana dari desa untuk menjaga agar semangat Maulid tidak berhenti pada lantunan shalawat, tetapi menjelma menjadi gerakan nyata untuk kemaslahatan umat.


