Krejengan, nukraksaan.or.id — Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kraksaan menggelar kajian rutin pada Ahad (14/6/2026) di kediaman Dr. Imam Syafi’i, M.Pd., Tanjungsari, Krejengan, Probolinggo. Diskusi yang mengangkat tema “Operasi Pelemahan NU dan Pesantren Kini: Analisis dan Solusi Strategis” tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus Lakpesdam PCNU Kraksaan serta perwakilan PAC GP Ansor Kecamatan Krejengan.
Kegiatan yang dipimpin Ketua Lakpesdam PCNU Kraksaan, Muhammad Yazid, ini menjadi ruang intelektual untuk memetakan berbagai tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama dan pesantren dewasa ini, sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis guna memperkuat kapasitas kelembagaan, kaderisasi, dan ketahanan organisasi di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.
Dalam pemaparannya, Dr. Imam Syafi’i, M.Pd., selaku Kepala Bidang Pengembangan SDM Lakpesdam PCNU Kraksaan sekaligus Dekan FAI UNZAH Genggong, menyoroti empat tantangan besar yang sedang dihadapi NU sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Tantangan tersebut meliputi aspek sosial, politik, digital, dan tata kelola kelembagaan.
Menurutnya, perkembangan zaman yang semakin cepat menuntut NU untuk terus melakukan penguatan internal, terutama dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta kaderisasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan riset.

“Keempat tantangan itu hanya bisa diatasi dengan tata kelola kelembagaan yang solid, termasuk pendidikan dan kaderisasi NU yang harus berbasis ilmu pengetahuan agar kebal dari infiltrasi luar,” tegasnya.
Imam Syafi’i menambahkan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada jumlah pengikutnya, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang mampu menjaga nilai-nilai ke-NU-an sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena itu, penguatan kapasitas kader menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Sementara itu, Sekretaris Lakpesdam PCNU Kraksaan, M. Abdul Fatah, mengemukakan pandangannya mengenai adanya berbagai bentuk operasi pelemahan yang menurutnya berlangsung secara multidimensi. Ia menjelaskan bahwa upaya-upaya tersebut dapat hadir melalui jalur politik, ekonomi, pendidikan, maupun kelembagaan.
Menurut Abdul Fatah, ketika kekuatan sosial sebesar NU semakin terkonsolidasi dan mampu membangun kemandirian ekonomi, maka keseimbangan kekuatan dalam berbagai sektor akan mengalami perubahan. Kondisi tersebut berpotensi memunculkan resistensi dari pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu.
Karena itu, ia menilai bahwa penguatan organisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus dibangun melalui sistem kaderisasi yang berkelanjutan, penguatan ekonomi umat, serta peningkatan kualitas literasi warga NU dalam menghadapi berbagai bentuk propaganda dan disinformasi.
Pada sesi berikutnya, Dr. Ahmad Muzakki, selaku Bidang Kaderisasi Lakpesdam PCNU Kraksaan sekaligus Rektor Ma’had Aly Genggong, memaparkan isu kekerasan seksual yang belakangan menjadi perhatian publik. Dalam paparannya, ia mengutip data Komnas Perempuan sepanjang tahun 2025 yang mencatat 43 kasus di lingkungan perguruan tinggi, 17 kasus di pesantren, dan 16 kasus di sekolah menengah.
Ia menegaskan bahwa seluruh bentuk kekerasan seksual harus mendapatkan perhatian serius dan tidak boleh ditoleransi dalam lingkungan pendidikan mana pun. Namun demikian, ia menilai bahwa perhatian publik terhadap pesantren sering kali tidak proporsional jika dibandingkan dengan data yang tersedia.
Menurut Ahmad Muzakki, penyelesaian persoalan harus dilakukan secara objektif berdasarkan fakta dan data, bukan berdasarkan asumsi ataupun stigma yang dapat merugikan lembaga pendidikan tertentu.
“Prinsipnya jelas, yang menjadi fakta harus dibina, dan yang menjadi fitnah harus dibela,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Ketua Lakpesdam PCNU Kraksaan, Muhammad Yazid, menyampaikan bahwa hasil kajian ini tidak boleh berhenti pada tataran diskusi semata. Ia menegaskan perlunya langkah-langkah konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Sebagai tindak lanjut, Lakpesdam PCNU Kraksaan berencana menjalin kolaborasi dengan RMI PCNU Kraksaan untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi anti-kekerasan seksual di seluruh pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pencegahan, meningkatkan kesadaran seluruh elemen pesantren, serta menjaga marwah lembaga pendidikan pesantren sebagai pusat pembentukan karakter dan peradaban.

