PAITON. nukraksaan.or.id– Ketua Aswaja Center Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan, Gus Idris Mubarok, menjadi narasumber dalam kegiatan podcast di Universitas Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, pada Ahad, 11 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi agenda pembuka Hari Santri yang diselenggarakan Aswaja Center PCNU Kraksaan. Dalam podcast tersebut, Gus Idris Mubarok mengupas sejumlah persoalan mendasar mengenai akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), mulai dari pembuktian wujud Allah SWT, keyakinan bahwa Allah tidak bertempat, hingga pemahaman terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

Pada sesi pertama, Gus Idris Mubarok menjelaskan bahwa salah satu sifat wajib bagi Allah SWT adalah wujud, yang berarti ada. Ia memaparkan tiga pendekatan untuk mengetahui keberadaan sesuatu.

Pertama, melalui penglihatan secara langsung. Seseorang dapat mengetahui keberadaan sesuatu ketika melihatnya secara langsung. Namun, pendekatan ini tidak dapat digunakan untuk membuktikan wujud Allah SWT melalui penglihatan indrawi di dunia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

Kedua, melalui perbandingan dengan sesuatu yang pernah dilihat. Pendekatan ini juga tidak dapat diterapkan untuk mengenali zat Allah SWT, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Ketiga, melalui hasil karya atau ciptaan. Pendekatan ini dapat dipahami melalui contoh sebuah lukisan yang indah. Keberadaan lukisan tersebut menunjukkan adanya pelukis yang membuatnya.

“Demikian pula alam semesta. Keteraturan dan keberadaan alam semesta menjadi tanda kekuasaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Alam semesta tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa kehendak dan kekuasaan-Nya,” demikian inti penjelasan dalam sesi tersebut.

Melalui penjelasan ini, peserta diajak memahami bahwa keberadaan Allah SWT dapat dikenali melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tampak pada seluruh ciptaan-Nya.