Jombang. nukraksaan.or.id-Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan sembilan ulama sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) masa khidmat 2026-2031. Kesembilan anggota AHWA tersebut selanjutnya akan bersidang untuk memilih dan menetapkan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031. Penetapan anggota AHWA dibacakan Ketua Sidang Pemilihan AHWA, Prof Ganefri PhD dalam rangkaian sidang Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026). Berdasarkan hasil tabulasi dan perhitungan suara, Kiai Haji Nurul Huda Jazuli memperoleh dukungan tertinggi dengan 486 suara. Berikut profil dan rekam jejak ringkas sembilan kiai sepuh terpilih berdasarkan urutan perolehan suara terbanyak:

1. KH. Nurul Huda Jazuli (485 suara)

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, ini merupakan putra pendiri pesantren, KH Ahmad Djazuli Utsman.

Kiai yang akrab disapa Mbah Yai Da ini menjabat sebagai Mustasyar PBNU Dalam kehidupan keilmuannya, beliau secara istiqamah memegang teguh prinsip thariqoh ta’lim wa ta’allum (tarekat belajar dan mengajar) melalui pengampuannya atas kitab-kitab kuning klasik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

2.TGK KH Nuruzzahri Yahya (477 suara)

Dikenal dengan sapaan Waled NU, ulama kelahiran Samalanga, Bireuen, tahun 1951 ini merupakan tokoh kunci NU di Serambi Mekkah, Aceh. Dia mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990 yang memprioritaskan pendidikan anak-anak yatim. Rekam jejak organisasinya mencakup kepemimpinan di Syuriyah PWNU Aceh (1970) hingga Tanfidziyah Wilayah Nanggroe Aceh Darussalam atau yang saat ini disebut Provinsi Aceh (1995).

3. AG Dr KH Baharuddin HS, MA (392 suara)

Ulama senior Sulawesi Selatan ini mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Sulsel (2024–2029) dan Ketua Umum MUI Kota Makassar. Selain mengasuh pengajian kitab Al-Hikam dan menjadi Syaikhul Ma’had An-Nahdlah, sosok Mustasyar PBNU ini juga dikenal luas atas kepakarannya di bidang seni kaligrafi Arab.

4. KH Miftachul Akhyar (350 suara)

Lahir di Surabaya pada 1953, pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedung Tarukan Surabaya ini kembali terpilih dalam jajaran AHWA. Dia memiliki rekam jejak kepemimpinan struktural yang panjang, mulai dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, hingga menjabat Rais ‘Aam PBNU masa khidmah 2022–2027.

5. KH Afifuddin Muhajir (339 suara)

Lahir di Sampang pada 1955, Wakil Rais Aam PBNU ini merupakan pakar fiqih dan ushul fiqih terkemuka. Dia menempuh pendidikan keagamaan hingga mengabdi sebagai Wakil Pengasuh Bidang Keilmuan di PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Kiai penerima gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Walisongo ini aktif merumuskan berbagai metodologi hukum Islam terkait isu-isu kebangsaan.

6. KH Anwar Iskandar (326 suara)

Ulama kelahiran Banyuwangi tahun 1950 ini menjabat sebagai Wakil Rais Aam PBNU (2021–2026) sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Mengawali pendidikan dari Lirboyo hingga sarjana Sastra Arab UIN Jakarta, Kiai Anwar memiliki pengalaman kepemimpinan yang luas, mulai dari pergerakan mahasiswa (PMII), Gerakan Pemuda Ansor, PWNU Jatim, hingga lembaga kenegaraan.

7. KH M Anwar Manshur (303 suara)

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri sejak 2014 ini lahir pada 1 Maret 1938. Cucu dari pendiri Lirboyo (KH Abdul Karim) ini pernah menimba ilmu di Pesantren Pacul Gowang dan Tebuireng. Di jajaran struktural, beliau dipercaya sebagai Mustasyar PBNU serta menjabat Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur periode 2024–2029.

8. Prof Dr KH Said Aqil Siroj (273 suara)

Ketua Umum PBNU dua periode (2010–2021) ini lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953.
Dia menyelesaikan studi doktoral bidang Aqidah dan Filsafat Islam di Universitas Ummul Qura, Makkah. Selain mendirikan Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Jakarta Selatan, Kiai Said telah aktif di jajaran kepengurusan PBNU sejak era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

9.Dr KH Abun Bunyamin, MA (268 suara)

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta ini memegang amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat.
Kiai Abun Bunyamon menimba ilmu di berbagai pesantren ternama di Jawa Barat, dengan gemblengan utama di Pesantren Cipasung di bawah bimbingan KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat.