nukraksaan.or.id Hasan Saifouridzall terlahir dengan nama Ahsan. Lahir pada 28 Oktober 1928 atau bersamaan dengan 13 Jumadil Awal 1347 H di Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Ayahanda dan ibunda beliau adalah KH Mohammad Hasan dan Nyai Hj Siti Aminah binti H Bakri.
Beliau merupakan khalifah ketiga Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Didirikan oleh KH Zainal Abidin pada awal abad 19, pengasuh kedua Pesantren ini adalah KH Mohammad Hasan. Beliau menjadi pengasuh pada kurun 1890-1952 Masehi. KH Mohammad Hasan sendiri wafat pada 1955. Namun sebelum wafat, KH Mohammad Hasan menyerahkan tongkat kekhalifahan kepada Kiai Hasan Saifouridzall pada 1952.
Kiai Hasan Saifouridzall adalah sosok yang kental dengan aroma Nahdlatul Ulama (NU) terbukti beliau tercatat sebagai pengurus PWNU Jawa timur dan ketua PCNU Kabupaten Probolinggo. Kecintaan beliau kepada NU bukan dibuktikan dengan SK saja, namun jiwa, raga dan harta diperuntukkan untuk perjuangan NU, hal ini bisa dilihat monumen besar NU yang terletak utara jalan raya Pondok Hafsawati Pesantren Zainul Hasan Genggong merupakan ide dan gagasan beliau. Beliau tidak hanya seorang kiai kharismatik yang disegani, namun juga sebagai ayahanda yang baik bagi putra-putrinya. Di lain kehidupan, beliau juga melakukan banyak pengembangan bagi Pesantren yang masyhur disebut pondok Genggong.
Lain waktu, beliau juga seorang negarawan. Mengenakan setelan pakaian yang serasi. Berkopyah hitam di kala beliau sedang berada dan menghormati kedatangan rombongan para petinggi negara, baik sipil maupun militer. Pada waktu yang berbeda, beliau tampil sebagai akademisi dengan pakaian toga. Khas seorang intelektual dan cendikia saat menghadiri prosesi wisuda sarjana para mahasiswanya.

Sosok lain dari beliau adalah karismanya yang menonjol sebagai seorang da’i. Banyak yang menyebut beliau sebagai singa podium. masyarakat akan dibuat tertawa, tersipu, dan tersenyum saat beliau menyampaikan kalimat, sindiran dan joke-joke segar yang menyentuk psikologis mereka.
Menilik pada sejarah panjang kehidupan beliau, patriotisme membela negara adalah salah satu bentuk ibadah dan pengabdiannya kepada bangsa. Seakan beriringan dengan semangat kelahiran sumpah pemuda yang bersamaan dengan kelahiran beliau.
Sebuah bukti, tak lain ketika terjadi agresi militer belanda ke-2 pada 1948. Kala itu usia beliau masih 20 tahun, Kiai Hasan Saifourdizall sudah memimpin perang gerilya di Tulangan, Sidoarjo. Beliau tergabung dalam laskar Hizbullah.
Sebelum terjun ke medan Sidoarjo, Kiai Hasan Saifourdizall pernah menggranat toko seorang antek Belanda. Usai menggranat, ia menyampaikan kejadian itu kepada sang ayahanda, KH Mohammad Hasan. Namun sang putra ditegur ayahanda. “Kok digranat nak? Nanti Belanda marah. Kasihanilah masyarakat,” tegur KH Mohammad Hasan.
Sejak kejadian itulah Kiai Hasan Saifourdizall diijinkan menjadi tentara dan bergabung dengan pasukan Hizbullah. Restu ayahandanya itu makin mendorong Ahsan untuk berjuang di garis terdepan.
Selanjutnya Kiai Hasan Saifouridzall menikahi Nyai Hj Himami Hafshawati pada tahun 1952. Tak lama setelah itu, beliau diberi amanah untuk melanjutkan perjuangan sang ayahanda untuk memimpin pesantren. Padahal usia beliau masih tergolong muda, 24 tahun.
Prosesi penyerahan amanat itu cukup mengharukan. KH Mohammad Hasan memberikan sebuah peci berwarna putih. Peci itu dipakaikan langsung oleh beliau sebagai simbol pergantian kepemimpinan. Sejak itulah segala hal yang bersangkutan dengan pesantren diserahkan kepada Kiai Hasan Saifourdizall.
Meskipun amanah tersebut cukup berat, Kiai Hasan Saifourdizall menerima dengan tulus sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Beliau yakin mampu menjalankan amanah itu termasuk orang yang pantang menolak tugas yang diserahkan pada Kiai Hasan Saifourdizall.
Kiprah Kiai Hasan Saifourdizall tidak hanya sebagai seorang kiai saja. Namun juga sebagai seorang politisi. Saat umat berada pada kejumudan politik pada medio 1980-an, beliau membuka kran komunikasi dengan berkiprah di salah satu parpol. Kiai Hasan Saifouridzall pun duduk di kursi MPR pada periode 1987-1992.
Kiai Hasan Muda dikenal sosok pemuda yang cerdas. Kecerdasan itulah yang memudahkannya menuntut ilmu. Karena itu cukup sering Kiai Hasan Saifourdizall diajak sang ayahanda untuk mengikuti berbagai acara pengajian. Bahkan pernah diundang untuk berceramah di pengajian umum. Pertama kali menjadi mubaligh usia Kiai Hasan Saifourdizall masih 10 tahun. Saat itu, beliau masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Selanjutnya pada usia 18 tahun atau pada 1946, Kiai Hasan Saifourdizall dimondokkan di sejumlah pesantren terkemuka. Di antaranya di Ponpes Tebu Ireng Jombang dan berguru kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu mondok di Ponpes Peterongan Jombang berguru kepada Kiai Romli. Selanjutnya juga mondok di Ponpes Lirboyo, Kediri yang diasuh Kiai Mahrus Ali.
Kiai Hasan Saifourdizall adalah sosok yang tak dibatasi ruang dan waktu sosial. Penampilan beliau cukup sederhana. Bersarung dan berkopyah putih, beliau dengan tekun, telaten, dan ajeg menuntun para santri untuk mengaji kitab kuning di Masjid Jamik Al-Barokah Genggong.
Setiap hari Ahad, beliau istikamah membimbing umat dalam kegiatan pengajian di Majlis Taklim al-Ahadi. Sebuah komunitas jamaah yang sampai saat ini masih nampak eksistensinya. Pengajian itu selalu diakhiri dengan shalat dluhur jamaah. Pengajian itu disudahi dengan bersalaman kepada Sang Kiai, berharap doa barokah sekaligus bentuk penghormatan kepada beliau. Aktivitas ini beliau jalani secara istiqamah sepanjang hayat.
Semasa hidup, Kiai Hasan Saifourdizall banyak menjalin silaturahim dengan berbagai elemen masyarakat. Baik kalangan birokrasi, militer, masyarakat sipil, hingga tamu dari luar negeri. Tak heran jika banyak kunjungan penting ke Ponpes Genggong. Baik dalam rangka menjalin silaturrahim, hingga untuk kepentingan penelitian tentang dunia pesantren.
Beberapa tamu dari luar negeri bahkan tidak sekedar bersilaturrahmi. Tak sedikit dari mereka yang berniat untuk memondokkan putra-putrinya di Ponpes Genggong. Sebagian besar berasal dari Singapura, Malaysia, maupun Brunai Darussalam.
Kematangan pengetahuan beliau tak hanya di bidang yang lumrah dikenal seorang ulama. Namun beliau juga memiliki kemampuan menggubah syair, menciptakan lagu, hingga mengaransemen sendiri lagu tersebut. Vokalisnya adalah para santri sendiri, putra-putri. Pada 1990-an, sebuah album musik pesantren diterbitkan. Album ini cukup populer di kalangan sejumlah ponpes lain binaan Ponpes Genggong.
Lain lagi ketika Kiai Hasan berinisiatif membentuk grup drum band yang beranggotakan para santri. Awalnya langkah tersebut sempat ditentang kalangan ulama. Namun langkah itu justru diikuti kalangan ulama tersebut. Justru ponpes-ponpes lain berlomba-lomba membentuk drum band. Kiai Hasan Saifourdizall menunjukkan bahwa pesantren bukanlah kalangan yang kaku.
Jiwa seni rupanya cukup kuat mengalir dalam darah Kiai Hasan Saifourdizall. Bahkan hal itu tampak di waktu-waktu senggang. Misalnya untuk mengusir kegalauan dan kepenatan pikiran, beliau sering berdendang atau mendengarkan lagu. Banyak lagu yang telah diciptakan oleh beliau yang sering dilantunkan oleh santri, diantaranya pesan ayah, mars pesantren, do’a syahdu, dll.
Disamping itu, Nun Ahsan mendirikan beberapa lembaga pendidikan formal dan non formal hal ini membuktikan bahwa selain ulama, beliau juga seorang pendidik dan akademisi. Banyak lembaga formal yang telah didirikan mulai tingkat dasar, menengah dan atas, bahkan sampai perguruan tinggi.
Hari ini, Ahad, 1 dzulhijjah 1447 H/17 Mei 2026 pukul 18.30 Wib digelar peringatan Haul KH. Hasan Saifouridzall ke 36, haul tersebut bertempat di Masjid Jamik Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo.


