Pagi itu udara Malang terasa berbeda. Sejuknya menusuk hingga ke relung dada, seolah ikut menyambut ratusan ribu langkah para nahdliyin yang datang dari berbagai penjuru negeri. Sejak Sabtu malam, 7 Februari 2026, hingga berlanjut ke Ahad, 8 Februari 2026, gelombang doa tak pernah benar-benar berhenti. Mujahadah Kubro dalam rangka satu abad Nahdlatul Ulama versi Masehi itu menjadi samudra spiritual yang menampung harap, taubat, dan cinta umat.

Di antara lautan manusia itu, ada rombongan kecil dari Kraksaan yang berangkat dengan harapan besar. Salah satunya Zainal Arifin, yang lebih akrab disapa Cak Alfin, salah satu pengurus LTN PCNU Kraksaan sekaligus Ketua LTN MWCNU Kraksaan.

Perjalanan mereka dimulai dengan semangat tinggi. Banyak yang rela begadang karena rangkaian mujahadah memang berlangsung sejak malam, menembus dini hari, hingga pagi hari.

Tak sedikit yang mengatakan bahwa doa pada jam-jam itu lebih mudah mengetuk langit.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

Namun setibanya di Malang, kenyataan tak seindah harapan.

Saat rombongan 18 bus dari PCNU Kraksaan tiba di titik transit di MAN 2 Kota Malang, kabar itu datang seperti petir di keheningan malam: alokasi tiket masuk ke Stadion Gajayana untuk PCNU Kraksaan sangat terbatas.

Beberapa wajah tampak pucat. Yang lain saling berpandangan, mencoba memastikan bahwa kabar itu bukan sekadar salah dengar.

“Tiketnya sudah tidak ada,” ujar seseorang pelan, seakan takut kalimat itu benar-benar nyata.

Jarak dua kilometer menuju stadion mendadak terasa panjang. Bukan karena lelah, tetapi karena harapan seperti tertahan di ambang pintu.

Namun Cak Alfin bukan tipe yang mudah menyerah.

“Kalau niat kita datang untuk bermujahadah sejak malam hingga subuh nanti, Allah pasti membuka jalan,” ucapnya mantap.

Tanpa banyak perdebatan, ia mengajak teman-temannya tetap berjalan menuju stadion. Malam semakin larut, udara makin dingin, tetapi langkah mereka tetap hangat oleh keyakinan.

Di tengah perjalanan itulah, Cak Alfin mulai menengadahkan doa dalam diam.

Dengan penuh tawadhu, ia berwasilah kepada muassis Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

“Mbah Hasyim, saya tidak punya tiket masuk. Ijinkan saya mengikuti mujahadah.”

Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, sejak meninggalkan tempat transit hingga mendekati stadion.

Setiap langkah menjadi dzikir. Setiap hembusan napas berubah menjadi harap.

Teman-temannya mungkin tidak semua mendengar doa itu, tetapi mereka bisa merasakan keteguhan yang terpancar dari dirinya.

Seolah ada energi sunyi yang menjaga rombongan kecil itu tetap bergerak.

Sesampainya di depan Stadion Gajayana, waktu telah menunjukkan sekitar pukul 02.45 WIB. Dini hari itu justru menjadi puncak keramaian — lautan manusia masih mengalir, sebagian mengejar rakaat doa, sebagian lagi takut tertinggal momen bersejarah.

Namun langkah rombongan MWCNU Kraksaan terhenti di depan gerbang utama.

Petugas dengan ramah namun tegas menahan mereka.

“Maaf, harus pakai tiket.”

Beberapa anggota rombongan menarik napas panjang. Ada yang menunduk, ada pula yang menatap stadion dengan mata berkaca-kaca.

Tetapi cahaya optimisme belum padam di wajah Cak Alfin.

“Pasti ada jalan,” katanya lirih.

Mereka lalu berkumpul di pinggir, merapatkan barisan seperti pasukan kecil yang tengah menyusun strategi di tengah dinginnya dini hari.

Sekitar dua puluh orang jumlahnya. Bukan angka yang sedikit untuk sebuah harapan yang tampak mustahil.

Berbagai ide bermunculan — menunggu barangkali ada tambahan tiket, mencari celah masuk tanpa tiket, atau berharap ada kebijakan yang memungkinkan jamaah masuk.

Namun waktu terus berjalan.

Doa-doa di dalam stadion mungkin sedang mengalun, menembus langit Malang yang gelap.

Cak Alfin kembali berbisik dalam hati,
“Mbah Hasyim, saya datang jauh-jauh hanya ingin bermujahadah dari malam hingga pagi. Jangan biarkan kami berhenti di sini.”

Dan tepat ketika mereka masih larut dalam diskusi kecil itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Seorang pria yang tak mereka kenal tiba-tiba mendekat dari arah kerumunan.

Tanpa banyak kata, ia menyerahkan segepok tiket kepada mereka.

Tidak satu atau dua — tetapi cukup untuk seluruh rombongan, bahkan lebih.

Cak Alfin terpaku. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru yang datang tiba-tiba.

“Ini… untuk kami?” tanya Ustadz Fadlil, Ketua Lazisnu MWCNU Kraksaan yang menerima tiket masuk itu.

Pria itu hanya mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan pergi, menghilang di antara ribuan orang sebelum sempat ditanya siapa namanya.

Rombongan itu saling pandang.

Beberapa meneteskan air mata tanpa suara.

Salah satu rombongan, Wakil Katib MWCNU Kraksaan, Kiai Muhammad Zainal Abidin, berulang kali mengucap, “MasyaAllah… MasyaAllah…”

Tak ada yang tahu dari mana tiket itu datang. Tak ada pula yang mengerti mengapa pria itu memilih mereka di antara begitu banyak jamaah.

Namun di hati Cak Alfin, jawabannya terasa sangat jelas: ini bukan kebetulan.

Ini pertolongan Allah yang datang pada waktu paling hening.

Dengan tangan sedikit bergetar, mereka membagikan tiket satu per satu. Rasanya seperti menerima undangan langsung untuk hadir di majelis langit.

Langkah mereka yang tadi tertahan kini berubah ringan.

Saat melewati gerbang stadion, Cak Alfin menoleh sebentar ke belakang — bukan untuk melihat kerumunan, tetapi untuk mensyukuri perjalanan batin yang baru saja mereka lalui.

Di dalam stadion, gema shalawat bergulung seperti ombak dini hari. Mujahadah yang telah berlangsung sejak Sabtu malam terasa mencapai puncaknya — doa bersahutan, air mata jatuh, dan ribuan tangan terangkat bersamaan.

Cak Alfin menutup mata sejenak.

Dalam diam ia berbisik,
“Terima kasih, Mbah Hasyim.”

Kisah itu ternyata bukan tanpa akar. Sebelumnya, ia pernah mendengar cerita yang hampir serupa dari Muhammad Yazid, Ketua Lakpesdam PCNU Kraksaan.

Sebelum keberangkatan rombongan Mujahadah Kubro, sekitar pukul 19.30 WIB, Yazid bertugas mengumandangkan adzan saat pelepasan rombongan. Ia tidak mengetahui bahwa bus yang hendak ditumpanginya — yang awalnya berada di belakang — telah berpindah ke depan.

Saat rombongan mulai bergerak pelan usai dilepas oleh Ketua PCNU, ia mengira busnya masih berada di belakang. Ia baru sadar ketika bus terakhir lewat dan itu bukan busnya.

Ia panik karena tertinggal oleh rombongan PCNU. Ia mencoba menghubungi Wakil Ketua PCNU, Gus Moh Amin, tetapi kendaraan-kendaraan itu sudah mulai menjauh, sementara dirinya masih terpaku di titik keberangkatan.

Namun ia tidak pasrah.

Ia berlari mengejar rombongan itu sekuat tenaga, sambil menghubungi orang-orang di dalam bus.

Dalam napas tersengal, ia juga berdoa, memohon kepada Mbah Hasyim agar tidak ditinggalkan dalam perjalanan khidmah dan mujahadah.

Dan keajaiban pun datang.

Teleponnya berdering.

Di ujung sana, Ketua PCNU Kraksaan, Gus Hafidzul Hakim Noer, mengabarkan bahwa seseorang sedang diutus menjemputnya.

Tak lama kemudian, sebuah Alphard berhenti di dekatnya.

Ia diantar menyusul bus rombongan yang kian menjauh — sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

Kisah itulah yang tertanam kuat di benak Cak Alfin.

Bahwa dalam perjuangan menuju kebaikan, terutama untuk menghadiri majelis doa yang berlangsung dari malam hingga pagi, selalu ada ruang bagi pertolongan Allah yang datang melalui cara-cara tak terduga.

Hari itu di Stadion Gajayana, keyakinan itu menjelma nyata.

Mujahadah Kubro bukan hanya tentang ratusan ribu orang yang berkumpul sejak Sabtu malam hingga Ahad pagi dalam satu tarikan doa, tetapi juga tentang pelajaran besar: ketika niat lurus dan hati bersandar penuh kepada Allah, jalan akan dibukakan — bahkan dari arah yang tak pernah kita bayangkan.

Cak Alfin memahami satu hal penting dini hari itu.

Kadang keajaiban tidak datang dengan suara gemuruh.

Ia hadir pada pukul 02.45 WIB…
di tengah dingin yang menggigil…
melalui tangan orang tak dikenal…

lalu mengubah putus asa menjadi syukur yang tak bertepi.