Ketua Pengurus Pusat Fatayat NU Sahabati Hj. Margaret Aliyatul Maimunah telah kembali ke rahmatullah di Jakarta, pada Minggu, (1/3/2026). Kabar duka ini dikonfirmasi NU Kraksaan dari Sahabati sekjen pada Minggu pagi. “Betul, ketua fatayat kami Ning Margaret Aliyatul Maimunah wafat jam 08.00 WIB di RS Fatmawati,” kata Sekjen PP Fatayat NU.
Selain sebagai Pimpinan Tertinggi Fatayat Nahdlatul Ulama (NU). Bunyai Hj. Margaret Aliyatul Maimunah juga sebagai ketua KPAI, beliau merupakan teladan perempuan nahdliyin, insya allah akan disalatkan di Kantor PBNU, Jakarta, sebelum dibawa ke pemakaman keluarga di Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang Jawa Timur.
“Kami sangat berduka atas wafatnya beliau dalam menahkodai PP Fatayat NU, Selamat Jalan Bunyaiku” Ungkapnya.
Pesan kesan dari kolega KPAI “Hari ini kami kehilangan sosok pemimpin, ibu, dan teladan yang begitu berarti bagi kami di Komisi Perlindungan Anak Indonesia,” tulis akun Instagram @kpai_official, dikutip pada Minggu, 1 Maret 2026.

KPAI menjelaskan Margaret Aliyatul Maimunah bukan hanya Ketua, tetapi sosok yang penuh keteguhan, kelembutan, dan keberpihakan tanpa lelah bagi perlindungan anak Indonesia. Dedikasi, kepedulian, dan nasihat beliau akan selalu hidup dalam setiap langkah kami.
“Terima kasih atas pengabdian dan cinta yang Ibu berikan untuk anak-anak negeri ini. Semoga Allah SWT menempatkan almarhumah di tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan,” ungkapnya.
Sekilas Perjalanan Hidup Bunyai Hj. Margaret Aliyatul Maimunah
Beliau lahir di Jombang pada 11 Mei 1978. Dia merupakan putri kedua pasangan KH. Mohammad Faruq dan Hj. Lilik Chodijah Aziz Bisri, sedari kecil ia telah kenyang dengan didikan spritual dan intelektual pesantren yang begitu mendalam.
Jika dilihat garis keturunan, beliau adalah cucu buyut dari KH Moh. Bisri Syamsuri, salah satu tokoh pendiri NU sekaligus ahli fiqih dari Jombang, Jawa Timur (Jatim), sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar.
Pendidikan dasarnya ditempuh di lingkungan pesantren. Dia nyantri di Pondok Pesantren Denanyar Jombang sejak tingkat SLTP hingga SLTA.
Selepas menamatkan pendidikan di MAN Denanyar, Beliau melanjutkan studi S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya dan menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia pada Program Studi Kajian Wanita pada 2009 dan sedang proses doktoral di IPDN Jakarta.
Sejak remaja, jiwa organisasinya telah tumbuh. Beliau aktif di OSIS, Pramuka, dan berbagai kegiatan pelajar. Saat mahasiswa, Bunyai Margaret dipercaya menjadi Ketua Korps PMII Putri (Kopri PMII) Rayon Adab (2000–2001), lalu Ketua Komisariat PMII Adab Cabang Surabaya Selatan (2001–2002).
Di lingkungan IPPNU, Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum (2006–2009) dan Ketua Umum (2009–2012). Karier organisasinya berlanjut di Fatayat NU sebagai Wakil Koordinator Bidang Ekonomi (2009–2015) dan Sekretaris Umum (2015–2020), sebelum akhirnya dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU.
Komitmennya terhadap isu perempuan dan anak diwujudkan melalui perannya sebagai Komisioner KPAI periode 2017–2022 dan 2022–2027.
Sebagai akademisi beliau telah menulis dan meneliti beberapa karya berupa artikel Jurnal “Children’s digital Literacy: Parental Role In Protection amid Pamdemic And digital shift“, dan “Studi Kebiajakan Perlindungan Kesehatan Reproduksi Bagi Pekerja Perempuan (Analisa Terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003”. Dalam Penelitiannya beliau menulis “Pendidikan dan Kesadaran Hak-Hak Buruh Kasus Buruh Perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung” dan judul lain “Kesadaran Tentang Perlindungan Kesehatan Reproduksi Kasus Buruh Perempuan di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Tanjung Priok” dan tulisan lainnya, selain menjadi akademisi belia dikenal sebagai aktifis, Fatayat NU menjadi saksi dalam pergerakannya, beliau juga diketahui bergabung dengan Women Research Institute (WRI), lembaga yang fokus pada penelitian dan advokasi isu perempuan. Selamat Jalan Bunyai, Engkau pejuang Perempuan dan Anak.


