TIRIS BARAT, 16 Februari 2026 — menggelar kegiatan Ta’arufan dan Pelantikan Pengurus bersama ranting JQH dan para pimpinan TPQ se-wilayah Tiris Barat, Senin (16/2/2026).
Kegiatan berlangsung di kantor dengan tingkat kehadiran sekitar 85 persen dari undangan.
Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran MWC NU, pengurus PAC dan ranting JQH, serta pimpinan TPQ dari sekitar 30 lembaga di Tiris Barat.
Tingginya kehadiran menunjukkan adanya kebutuhan bersama untuk memperkuat koordinasi antar-lembaga pendidikan Al-Qur’an yang selama ini berjalan aktif, tetapi belum sepenuhnya tertata secara organisasi.

Pelantikan pengurus dilakukan oleh Pimpinan PC JQH NU Kraksaan Habib Anis bin Hamid Al-Habsyi.
Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan organisasi adalah kekompakan menjalankan tugas.
Menurutnya, amanah berorganisasi memang berat. Namun jika dijalankan dengan niat khidmah dan mencari ridha Allah SWT, maka pekerjaan itu akan terasa ringan dan mendapatkan pertolongan.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa organisasi keagamaan tidak cukup hanya dibentuk, tetapi harus dijalankan secara serius dan bersama-sama.
Ketua PAC, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang perkenalan antar-pengurus, tetapi juga untuk memperkuat kelembagaan TPQ.
“Selain ta’aruf, ini menjadi momentum membangun keorganisasian dan menata lembaga TPQ agar lebih rapi dan terarah,” ujarnya.
Selama ini banyak TPQ berdiri karena semangat masyarakat. Kegiatan berjalan, santri belajar, tetapi administrasi, legalitas, dan koordinasi sering kali belum maksimal. Kondisi ini membuat TPQ kuat secara kegiatan, namun lemah secara sistem.
Materi tentang penguatan kelembagaan disampaikan oleh Sekretaris PC JQH, H. Yulis Agus, ia menekankan pentingnya pengelolaan program, pencatatan administrasi, serta legalitas lembaga agar TPQ bisa berkembang dan diakui secara resmi.
Para peserta terlihat antusias mengikuti paparan. Banyak pimpinan TPQ menyadari bahwa zaman sudah berubah. Mengajar Al-Qur’an tetap menjadi inti, tetapi pengelolaan lembaga juga harus tertib agar bisa bertahan dalam jangka panjang.
Setelah acara utama, pengurus PAC melanjutkan pertemuan internal dengan sesi tanya jawab. Dalam forum ini dibahas persoalan penting seperti IJOP (izin operasional) dan pendataan EMIS TPQ.
Pengantar disampaikan oleh Rois Majelis Ilmi PAC, , yang menekankan bahwa legalitas bukan untuk mempersulit, tetapi untuk melindungi dan memperkuat keberadaan TPQ.
Diskusi ini menjadi ruang terbuka untuk membicarakan persoalan yang selama ini sering dihadapi, tetapi jarang dibahas bersama.
Kegiatan ditutup dengan doa oleh Rois Syuriah MWC NU Tiris Barat. Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar.
Di TPQ bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an. Ia adalah tempat pertama anak-anak mengenal agama. Karena itu, memperkuat TPQ berarti menjaga masa depan pendidikan keislaman dari level paling dasar.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menyatukan gerak, merapikan sistem, dan memastikan TPQ tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu jaringan pembinaan yang lebih kuat.


