Kraksaan, Pengurus Bidang Penyuluhan dan Layanan Konseling Keluarga Maslahah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kraksaan (LKK PCNU Kraksaan) Mbak Ning Lailatul Qomariah mengikuti tadarus pagi bersama ibu-ibu kampung yang jumlah keseluruhan sekitar 86 peserta jika semua hadir sekaligus mengisi materi tentang keluarga maslahah bagi pasangan suami istri, ia menekankan pentingnya pola pengasuhan yang maslahah agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Menurut Laila, keluarga maslahah bukan hanya membangun hubungan suami-istri, tetapi juga membangun kedekatan dengan anak, keluarga besar, hingga lingkungan sekitar.
“Membangun sebuah keluarga itu bukan hanya relasi suami-istri tetapi relasi dengan anak, hubungan dengan keluarga besar, dengan sosial, dengan bangsa dengan berbagai perbedaan yang beragam, berkarakter, dan juga dengan lingkungan,” ujar Laila kepada NU Kraksaan disela wawancara ketika Ng Laila Menghadiri Kumpulan Ibu-ibu Ngaji Pagi di Masjid Miftahul Hasan Desa Alaskandang, pada Sabtu Pagi (7/03/2026). Ia menambahkan bahwa keluarga maslahah bukan hanya sekadar teori, melainkan pendekatan praktis yang harus diterapkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran-peran keluarga yang maslahah menekankan pada pentingnya hubungan harmonis antara orang tua dan anak, sehingga tercipta perilaku yang baik pada anak.
“Perlu adanya penerapan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus berkelanjutan. Bahkan pengasuhan ini harus diutamakan pada komunikasi dua arah, sehingga terjadi bonding yang terus menerus dan tidak tergantikan,” ujarnya.

Laila yang juga merupakan Direktur Nowara Home Science (NHS) Wangkal itu menyampaikan, membangun komunikasi dua arah kepada anak harus dilakukan karena akan membangun kehangatan. Melalui komunikasi ini, anak akan berani menyampaikan dan bercerita kegiatannya selama sekolah dan di lingkungan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa komunikasi dua arah yang dilakukan akan membantu membimbing anak-anak untuk mengambil keputusan terbaik dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Anak juga akan menjadi pelopor atas lingkungan yang kondusif di dunia pendidikan. “Bayangkan, misal tiga anak dari lingkungan keluarga positif dan berkumpul di sekolah, berarti menghasilkan ribuan anak hasil dari keluarga yang positif. Ini yang sesungguhnya menjadi harapan kita semua,” ujar Laila.
Laila menyampaikan, saat ini sebagian besar orang tua menerapkan sistem digital parenting. Ia menegaskan bahwa melalui telepon genggam atau handphone (HP), pengawasan dan pendidikan anak tidak semua dapat teratasi dengan baik.
Penggunaan HP kepada anak harus dilakukan dengan bijak oleh orang tua, harus dibekali pendekatan sosial atau persetujuan bersama antara anak dan orang tua. “Digital parenting yang sebagian besar orang tua terapkan memang di satu sisi tidak bisa, tetapi di satu sisi menjadi alternatif yang harus menjadi pembelajaran penting karena HP tidak bisa menyelesaikan semuanya,” ujar Laila.
“Meski HP ini menjadi alternatif yang harus dibekali dengan kontrak social atau persetujuan bersama, tetapi HP tidak bisa menggantikan semua pengasuhan orang tua terhadap anak,” tambahnya.
Kegiatan ini ditutup dengan khatmil al-Qur’an bersama Ibu-ibu anggota muslimat, Remaja Putri dan Anak-anak balita semua berkumpul menjadi satu, bersyukur bisa silaturrahmi dan ngaji bareng mereka. Semoga Tahun depan tetap istiqamah dan berjalan lancar kegiatan bersama ini.


