Kraksaan, – Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) PCNU Kraksaan menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) Masa Khidmah 2025–2030 pada Rabu (24/12/2025). Kegiatan ini berlangsung di Warteg Bu Wiwik, Jl. Pantura No. 2, Krajan, Kebonagung, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dengan suasana sederhana namun penuh semangat kebersamaan.
Raker tersebut menjadi momentum penting bagi RMI NU Kraksaan untuk merumuskan arah kebijakan, program, dan strategi pengabdian lima tahun ke depan. Seluruh pengurus RMI NU Kraksaan, baik pengurus harian maupun koordinator kecamatan (Korcam), hadir secara lengkap dan aktif mengikuti jalannya rapat.
Turut hadir dalam kegiatan ini para penasehat RMI NU Kraksaan, yakni KH. Hasan Asy-Syadzili dan Gus Habiburrahman, S.Pd. Selain itu, hadir pula Dr. H. M. Rosyadi Bada, M.Pd.I selaku penanggung jawab, yang memberikan penguatan sekaligus arahan strategis dalam penyusunan program kerja.
Ketua RMI PCNU Kraksaan, Moh. Hilmi Tholib, dalam sambutannya menjelaskan bahwa fokus utama program kerja RMI NU selama masa khidmah 2025–2030 adalah pengembangan pesantren dan madrasah diniyah (madin) secara menyeluruh di wilayah Kraksaan.

“Program kerja RMI NU Kraksaan ke depan kami fokuskan untuk mengembangkan pesantren-pesantren dan madin dalam segala aspek, baik kelembagaan, keilmuan, tata kelola, maupun penguatan peran sosialnya di tengah masyarakat,” tegas Moh. Hilmi Tholib.
Penasehat RMI PCNU Kraksaan, KH. Hasan Asy-Syadzili, dalam arahannya menyampaikan bahwa RMI NU Kraksaan ke depan harus mampu mengawal pesantren-pesantren se-wilayah Kraksaan secara komprehensif. Pengawalan tersebut meliputi bidang keilmuan, kepesantrenan, penguatan ekonomi pesantren, serta penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Senada dengan itu, Gus Habiburrahman, S.Pd menegaskan bahwa RMI NU Kraksaan juga memiliki tanggung jawab besar dalam penguatan wawasan kebangsaan dan keindonesiaan di lingkungan pesantren. Ia menekankan pentingnya peran RMI NU dalam menangkal isu-isu radikalisme, kekerasan, serta praktik bullying yang berpotensi muncul di lingkungan pesantren.
Sementara itu, Dr. KH. Rosyadi Bada, M.Pd.I selaku penanggung jawab menyampaikan bahwa program-program RMI NU Kraksaan harus dirancang secara realistis dan solutif. Ia menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap pesantren dan madin yang berada di wilayah terpencil dan masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Ia berharap RMI NU Kraksaan mampu menjadi penghubung antara pesantren, madin, pemerintah daerah, dan kementerian terkait, sehingga berbagai tantangan yang dihadapi dapat diselesaikan melalui sinergi dan kerja bersama.
Dalam Raker tersebut juga ditegaskan peran strategis Ketua RMI NU Kraksaan dalam mengorganisir dan mengoordinasikan seluruh anggota. Ketua RMI NU Kraksaan bertanggung jawab menjalin komunikasi dengan PCNU Kraksaan, para pengasuh pesantren NU, pemerintah daerah, serta mengarahkan kebijakan strategis demi tercapainya tujuan organisasi.
Raker juga membahas langkah-langkah tindak lanjut, termasuk rencana kerja sama dengan pemerintah daerah, kementerian-kementerian terkait, serta lembaga-lembaga NU lainnya. Kerja sama lintas sektor ini dinilai penting agar seluruh program RMI NU Kraksaan mampu memberikan dampak riil dan manfaat nyata bagi pesantren, madrasah diniyah, dan umat.
Melalui Raker ini, RMI NU Kraksaan meneguhkan komitmennya untuk terus mengawal pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan penjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta kebangsaan di wilayah Kraksaan.


