Pondok Pesantren Raudhatul Hasaniyah, Desa Mojolegi, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) IPNU–IPPNU pada Jumat (22/12/2024). Kegiatan yang diinisiasi Pimpinan Komisariat IPNU–IPPNU Pesantren Raudhatul Hasaniyah itu dipusatkan di Aula pesantren dan diikuti 25 santri.  Makesta menjadi tahap awal kaderisasi pelajar NU untuk menanamkan nilai keorganisasian, keaswajaan, serta kepemimpinan sejak dini. Para peserta dibekali pemahaman tentang peran pelajar NU sebagai calon pemimpin yang berakhlak, berilmu, dan siap berkhidmat.

Salah satu materi utama menghadirkan pengurus lembaga di PCNU Kraksaan sekaligus Pengurus NU Online Jawa Timur, Ust. Robby Zidni Ilman. Putra daerah Gading yang pernah berproses di IPNU tingkat Kecamatan hingga kepengurusan Pusat IPNU sembari studi di Jakarta membagikan pengalaman organisasinya dan menegaskan pentingnya IPNU–IPPNU sebagai ruang pembentukan karakter.

“Pemimpin itu bergerak dan mendorong. Kepemimpinan bukan soal posisi, melainkan kemampuan memengaruhi dan menggerakkan,” ujarnya.

Roby sapaan karibnya menekankan tiga kemampuan dasar pemimpin pelajar, yakni komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Selain itu, kapasitas diri juga harus terus diasah melalui sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), kebiasaan (habit), serta usaha (effort).   Dalam konteks IPNU–IPPNU, kepemimpinan harus berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah, mengedepankan musyawarah, menjunjung keikhlasan, serta berorientasi pada kaderisasi dan kemaslahatan umat. Tujuannya mencetak pelajar NU yang berilmu, berakhlak, dan berorganisasi, sekaligus menyiapkan kader pemimpin bangsa.   Ia juga menguraikan sifat pemimpin ideal, di antaranya amanah, jujur, adil, bertanggung jawab, disiplin, rendah hati, mau mendengar, serta berani mengambil keputusan. Tantangan seperti manajemen waktu, perbedaan pendapat, hingga rasa malas harus dihadapi dengan komitmen dan kerja tim.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

Menutup materinya, Pengasuh Yayasan Lembaga Nowara Home Science Wangkal, Gading  yang juga penerima award  beasiswa 2 magister dan 2 doktor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang  dan Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menegaskan bahwa kepemimpinan harus tampak dalam tindakan nyata.   “Pemimpin IPNU–IPPNU bukan yang paling pintar, tetapi yang paling siap melayani,” pungkasnya.