MALANG – Stadion Gajayana, Malang, berubah menjadi lautan putih dan hijau pada Minggu dini hari, 07 Februari 2026 – 08 Februari 2026. Ribuan nahdliyin dari berbagai penjuru Jawa Timur memadati tribun hingga area lapangan untuk mengikuti Mujahadah Kubro yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.
Di antara barisan massa yang hadir, delegasi dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kraksaan tampak hadir secara khusus. Kehadiran lembaga NU yang menaungi pondok pesantren ini bukan sekadar urusan formalitas organisasi, melainkan sebuah laku batin kolektif.
Acara yang dimulai sejak pukul 21-00 WIB diisi dengan pembacaan salawat, dzikir bersama, dan doa untuk keselamatan bangsa. Suasana khidmat menyelimuti stadion bersejarah tersebut saat gema zikir mulai dikumandangkan, menciptakan getaran spiritual yang kuat di tengah hiruk-pikuk kota.

Ketua RMI PCNU Kraksaan, yang memimpin langsung rombongan dari wilayah timur Kabupaten Probolinggo, menegaskan bahwa partisipasi mereka dalam Mujahadah Kubro ini didasari oleh dorongan yang jauh lebih dalam dari sekadar instruksi struktural.
“Kehadiran kami di Stadion Gajayana malam ini bukan hanya soal memenuhi undangan organisasi. Ini adalah sebuah panggilan spiritual dan batiniyah,” tegas Ketua RMI PCNU Kraksaan di sela-sela acara.
Ia menambahkan bahwa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesantren harus menjadi garda terdepan dalam menjaga “sanad” spiritualitas umat. “Mujahadah ini adalah momentum bagi kami, para pengelola pesantren, untuk menyambung batin dengan para kiai sepuh dan muassis NU, memohon pertolongan Allah agar perjuangan dakwah di pesantren tetap teguh,” lanjutnya.
Kehadiran RMI PCNU Kraksaan dalam acara ini juga menjadi simbol soliditas pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Dengan membawa semangat dari bumi Kraksaan, mereka bergabung dengan ribuan santri lainnya untuk menunjukkan bahwa kekuatan NU terletak pada doa dan persatuan.
Mujahadah Kubro PWNU Jatim 2026 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang berkumpul secara fisik, tetapi juga menjadi “recharging” energi spiritual bagi seluruh pengurus dan warga NU dalam menghadapi dinamika sosial dan politik di tahun 2026.
Hingga subuh, acara berlangsung tertib dan damai. dengan membawa harapan bahwa doa-doa yang dipanjatkan di Stadion Gajayana akan membawa keberkahan bagi Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya.


