Kraksaan, nukraksaan.or.id — Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) MWCNU Kraksaan kembali mengambil peran dalam penguatan pendidikan keagamaan di lingkungan sekolah. Kali ini, Lakpesdam MWCNU Kraksaan mendelegasikan Dr. Ainul Yakin, MHI. sebagai pemateri dalam kegiatan Pondok Ramadlan yang diselenggarakan oleh SMKN 1 Kraksaan pada Jumat (6/32026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa kelas X putra dan putri sebagai bagian dari rangkaian program pembinaan keagamaan selama bulan suci Ramadlan. Pondok Ramadlan menjadi salah satu agenda penting di sekolah yang bertujuan menanamkan nilai-nilai spiritual sekaligus memperkuat karakter religius para siswa.

Kegiatan berlangsung di lingkungan sekolah mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Selama kegiatan berlangsung, para siswa mengikuti pemaparan materi, refleksi keagamaan, serta diskusi yang berkaitan dengan makna dan hikmah ibadah puasa.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ainul Yakin mengangkat tema “Puasa Ramadlan sebagai Instrumen untuk Membangun Kemandirian dan Empati Sosial.” Tema ini dipilih sebagai upaya untuk mengajak para siswa memahami bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki dimensi pendidikan karakter yang sangat kuat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gambar nukraksaan

Ia menjelaskan bahwa puasa Ramadlan melatih seseorang untuk membangun kedisiplinan diri. Dengan menahan diri dari makan, minum, serta berbagai hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seseorang sebenarnya sedang dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu.

Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian. Seorang pelajar yang mampu mengatur dirinya dengan baik akan lebih mudah menghadapi tantangan akademik maupun sosial di masa depan.

“Puasa mengajarkan kita untuk hidup teratur, disiplin, dan mampu mengontrol diri. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar terbentuknya pribadi yang mandiri,” jelasnya di hadapan para siswa.

Selain aspek kemandirian, Ainul Yakin juga menyoroti dimensi sosial dari ibadah puasa. Ia menyampaikan bahwa pengalaman merasakan lapar dan dahaga selama berpuasa sejatinya menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa empati terhadap sesama.

Menurutnya, ketika seseorang merasakan kesulitan menahan lapar dan dahaga, ia akan lebih mudah memahami penderitaan orang-orang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

“Puasa membuat kita merasakan bagaimana kondisi orang-orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Dari situlah muncul empati dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa nilai empati tersebut sangat penting untuk membangun solidaritas di tengah masyarakat. Generasi muda diharapkan tidak hanya fokus pada kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitarnya.

Kegiatan Pondok Ramadlan ini disambut antusias oleh para siswa yang mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Suasana kegiatan berlangsung khidmat namun tetap komunikatif karena para siswa juga diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi.

Pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas kehadiran pemateri dari Lakpesdam MWCNU Kraksaan dalam kegiatan tersebut. Kerja sama ini dinilai sangat penting untuk memperkaya wawasan keagamaan para siswa sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan Pondok Ramadlan ini, pihak sekolah berharap para siswa tidak hanya menjalankan ibadah puasa sebagai kewajiban semata, tetapi juga mampu memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.