Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) adalah organisasi pelajar yang menjadi badan otonom NU, lahir dari kebutuhan untuk mewadahi pelajar dan santri muda agar memiliki ruang belajar, berproses, dan berjuang bersama.
IPNU didirikan pada tanggal 20 Jumadil akhir 1373 H/ 24 Februari 1954, ketika diselenggarakan Konferensi Besar Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Semarang. Sejak berdirinya IPNU menjadi bagian dari LP Ma’arif dan baru pada tahun 1966 saat kongres IPNU di Surabaya, IPNU resmi melepaskan diri dari LP Ma’arif dan menjadi Badan Otonom NU. Salah seorang pendirinya adalah Prof. Dr. KH. M. Tolchah Mansur.
Seiring waktu, IPNU berkembang menjadi wadah kaderisasi yang sistematis, dengan program seperti Makesta (Masa Kesetiaan Anggota), Lakmud (Latihan Kader Muda), dan Lakut (Latihan Kader Utama). Tentunya sebagai badan otonom NU, IPNU berfungsi: Pertama, membantu melaksanakan kebijakan NU dikalangan pelajar/santri. Kedua, menjadi pintu awal kaderisasi sebelum kader melanjutkan ke organisasi Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan organisasi mahasiswa NU seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).Ketiga, menanamkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan sejak usia pelajar.
Tentunya, IPNU merupakan organisasi pelajar yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dengan tujuan utama membentuk kader-kader muda yang berakar pada nilai-nilai keislaman berlandaskaan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, kebangsaan, dan kemanusiaan. IPNU bukan sekadar wadah berhimpun, melainkan ruang pembelajaran, pengabdian, dan pengkaderan yang menjadi pintu awal bagi generasi muda NU untuk menapaki jalan perjuangan.

Di era transisi globalisasi kebudayaan dan IPTEK, telah membawa masyarakat Indonesia hidup dalam pola pikir yang hedonis kapitalis. Kiranya ada yang salah dalam hidup masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang dikenal dengan kultur yang santun, ramah tamah, toleransi dan humanis religius. Ketika predikat itu harus sirna seakan ditelan oleh bumi. Maka kondisi inipun telah terwariskan ke dalam budaya pergaulan pelajar yang tidak mengenal norma adat istiadat serta agama semakin jelas di depan mata kita semua.
Seiring kondisi masyarakat Indonesia yang demikian carut marut dan menghawatirkan saat ini dengan arusnya informasi teknologi melalui media sosial, kehadiran dan keberperanan organisasi kepemudaan seperti IPNU diharapkan memberikan warna kompetisi yang lebih maju, kreatif, inovatif, cerdas dan baik di masa-masa mendatang sebagai wujud eksistensi generasi bangsa sangat dipertaruhkan stabilitas psikis dan rasio untuk mempercepat ketinggalannya terhadap dinamika perkembangan zaman dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
IPNU memiliki tanggung jawab moral yang berat sekali untuk menyelamatkan kader NU, kader bangsa dan kader agama dari stagnasi serta kejumudan obsesi idealisme di tengah transisi psikis biologis pelajar yang sangat rawan terjadi demoralisasi dalam bersikap, berpikir dan bertindak di tengah masyarakat. Keprihatinan tersebut, IPNU secermat mungkin untuk memulai mengusung garda sebuah gagasan dan gerakan dalam komunitas pelajar yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Keberpihakan perjuangan pada level pelajar memiliki urgenitas yang sangat tinggi sekali, dalam rangka mewariskan wawasan keagamaan dan kebangsaan yang berpegang pada prinsip dasar kemanusiaan yang lebih mengedepankan orientasi cita-cita bersama sebagai kader bangsa yaitu terciptanya konsolidasi gagasan dan gerakan.
Proses ini, perlu dimulai oleh IPNU yang notabene organisasi kepelajaran terbesar di Indonesia. Dengan cara membuang jauh-jauh berpikir organisasi politik praktis. Sebuah perjalanan yang masih panjang dan terbentang lebar bagi kaum pelajar IPNU untuk sesegera mungkin memahami jati dirinya sebagai kader kader bangsa yang dibentuk dalam kawah candra ahlusunnah Wal Jama’ah ala thoriqoti Nahdlatil Ulama.
Suatu organisasi yang ideal tentu berangkat dari dua maenstrem, yaitu mengiventarisir ide-ide besar sebagai wahana mengasah intelektual yang lebih independen dari interes-interes kepentingan pragmatis jangka pendek, dan sembari mencari metode yang labih efektif serta inovatif untuk mengaktualisasikan di tengah komunitas NU dan lainya.
Pada 24 Februari 2026 ini, IPNU telah berusia 72 tahun, tentunya usia yang telah matang, maka penulis berharap kepada segenap kader IPNU untuk terus teguhkan khidmat pelajar menuju peradaban mulia.
Penulis : Mohammad Hendra (Ketua LTN PCNU Kraksaan)


