Oleh: Zainal Arifin*)
Nahdlatul Ulama telah menapaki usia satu abad dalam kalender Masehi pada 31 Januari 2026. Satu abad bukan sekadar hitungan waktu, melainkan jejak panjang sejarah pengabdian ulama dan umat dalam menjaga agama, bangsa, dan kemanusiaan. NU lahir dari rahim kegelisahan para kiai yang memikirkan nasib umat Islam Nusantara di tengah perubahan zaman dan tekanan global.
Seratus tahun perjalanan NU telah menyatu dengan denyut nadi bangsa Indonesia. Dari masa penjajahan, kemerdekaan, hingga era globalisasi dan digital, NU selalu hadir dengan watak khasnya: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Karakter ini bukan slogan kosong, melainkan laku hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam perjalanan menuju satu abad, wajar jika muncul perayaan, seremoni, dan berbagai agenda besar. Namun pertanyaan yang lebih mendalam patut kita renungkan bersama: kado apa yang pantas kita berikan untuk NU? Pertanyaan ini penting agar satu abad NU tidak berhenti pada romantisme sejarah, tetapi menjadi momentum muhasabah dan pembaruan niat.

NU tidak pernah dibesarkan oleh kemegahan. NU tumbuh dari kesederhanaan pesantren, dari doa-doa malam para kiai, dan dari khidmah sunyi warga nahdliyyin di pelosok desa. Karena itu, kado untuk NU semestinya juga lahir dari kesadaran batin, bukan semata euforia lahiriah.
Artikel ini mencoba mengajak merenung, melihat ke dalam, dan menimbang kembali makna khidmah di usia satu abad NU. Bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa cinta pada NU harus dibuktikan dengan sikap dan tindakan nyata.
Mengembalikan Khidmah pada Keikhlasan
Khidmah adalah ruh NU. Sejak awal berdirinya, NU digerakkan oleh orang-orang yang bekerja tanpa pamrih. Para muassis tidak mendirikan NU untuk mencari kedudukan, apalagi keuntungan duniawi. Mereka berkhidmah karena panggilan iman dan tanggung jawab keumatan.
Namun perjalanan waktu seringkali membawa tantangan baru. NU yang besar dan berpengaruh tak jarang menjadi magnet kepentingan. Di sinilah keikhlasan diuji. Pada usia satu abad, kado pertama yang layak dipersembahkan adalah keberanian meluruskan niat dalam berkhidmah.
Keikhlasan bukan sesuatu yang bisa dipamerkan, tetapi harus terus dirawat. Ia hadir dalam kesediaan bekerja tanpa sorotan, dalam ketulusan menerima perbedaan, dan dalam kerelaan mengalah demi kemaslahatan jam’iyah. NU tidak kekurangan orang pintar, tetapi selalu membutuhkan orang yang tulus.
Khidmah yang ikhlas juga berarti menempatkan NU sebagai tujuan, bukan alat. Ketika NU dijadikan kendaraan ambisi pribadi, maka ruh perjuangan akan memudar. Satu abad NU seharusnya menjadi alarm batin agar setiap warga dan pengurus bertanya: untuk siapa aku berjuang?
Mengembalikan khidmah pada keikhlasan adalah kado yang tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat terasa. Ia menjaga NU tetap teduh, kuat, dan dipercaya umat. Tanpa keikhlasan, NU mungkin tetap besar secara struktur, tetapi rapuh secara ruh.
Merawat Adab, Akhlak, dan Tradisi Jam’iyah
NU dikenal bukan hanya karena jumlah pengikutnya, tetapi karena akhlak kolektifnya. Adab kepada ulama, santun dalam perbedaan, dan mengedepankan musyawarah adalah ciri khas NU yang diwariskan para kiai. Inilah modal sosial terbesar NU sepanjang sejarahnya.
Di era digital, adab seringkali menjadi korban kecepatan informasi. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi pertengkaran terbuka. Kritik kadang kehilangan etika. Pada fase satu abad NU, tantangan ini semakin nyata dan tidak bisa diabaikan.
Merawat adab berarti mengingat kembali cara para kiai menyikapi perbedaan. Tidak semua hal harus diselesaikan di ruang publik. Tidak setiap ketidaksepakatan harus diumbar ke media sosial. Ada etika jam’iyah yang harus dijaga demi marwah NU.
Tradisi NU juga perlu terus dirawat dengan bijak. Tahlilan, yasinan, maulidan, dan berbagai amaliah bukan sekadar ritual, tetapi sarana menjaga ikatan sosial dan spiritual umat. Di situlah NU berakar dan bertahan.
Merawat tradisi bukan berarti menolak perubahan. NU sejak awal dikenal adaptif terhadap zaman. Namun adaptasi harus tetap berpijak pada nilai dan hikmah. Satu abad NU membutuhkan generasi yang mampu menjaga tradisi sekaligus cakap membaca realitas baru.
Akhlak dan adab adalah kado yang akan menjaga NU tetap dicintai. Ketika NU kehilangan adab, maka ia akan kehilangan kepercayaan umat. Sebaliknya, dengan adab yang terjaga, NU akan tetap menjadi rujukan di tengah kegaduhan zaman.
Menguatkan Akar dan Kesetiaan pada Jam’iyah
NU berdiri kokoh karena akarnya kuat. Akar itu bernama kiai kampung, pesantren desa, madrasah kecil, dan jamaah yang setia. Mereka mungkin tidak tampil di panggung nasional, tetapi merekalah penjaga istiqamah NU dari masa ke masa.
Pada usia satu abad, menguatkan akar adalah keharusan. Jangan sampai NU hanya sibuk di level atas, tetapi lupa pada denyut kehidupan di bawah. Kado untuk NU adalah keberpihakan nyata pada penguatan basis umat.
Kesetiaan pada jam’iyah juga tercermin dalam ketaatan pada konstitusi organisasi. AD/ART NU bukan sekadar aturan administratif, melainkan warisan kebijaksanaan para pendiri. Menjaga NU berarti menjaga mekanisme dan etika berorganisasi.
Dalam perjalanan panjang NU, perbedaan pandangan adalah hal wajar. Namun perbedaan harus diselesaikan dengan cara-cara jam’iyah, bukan dengan saling melemahkan. Kedewasaan berorganisasi adalah tanda NU yang matang di usia satu abad.
Menguatkan kaderisasi yang berakar pada nilai Aswaja juga menjadi kado penting. NU membutuhkan kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional. Kader semacam inilah yang akan menjaga NU tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.
Kesetiaan pada NU bukan berarti membenarkan semua hal, tetapi mencintai NU dengan cara yang bertanggung jawab. Kritik yang membangun, disampaikan dengan adab, adalah bentuk cinta yang dewasa dan berkelanjutan.
Penutup
Satu abad Nahdlatul Ulama adalah anugerah sekaligus amanah. Anugerah karena NU diberi umur panjang dan peran besar. Amanah karena usia panjang menuntut kedewasaan dan tanggung jawab yang lebih besar pula.
Kado untuk NU tidak harus berupa perayaan megah atau proyek besar. Kado terbaik justru lahir dari pembenahan diri, pelurusan niat, dan penguatan nilai. Keikhlasan, adab, kesetiaan, dan khidmah nyata adalah hadiah yang paling dibutuhkan NU hari ini.
Pada 31 Januari 2026, setiap warga nahdliyyin patut bertanya pada dirinya sendiri: apa yang sudah dan akan aku berikan untuk NU? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya menentukan masa depan jam’iyah.
Jika NU adalah rumah besar kita bersama, maka tugas kita adalah menjaganya tetap kokoh, teduh, dan penuh keberkahan. Dengan kado-kado nilai itulah, NU akan melangkah ke abad kedua bukan hanya sebagai organisasi besar, tetapi sebagai jam’iyah yang tetap hidup, membumi, dan diridhai Allah SWT.
(* Zainal Arifin, Pengurus LTN PCNU Kraksaan

