KH. Abdul Wasik Hannan merupakan sosok ulama yang dikenal luas sebagai pengayom masyarakat dan penjaga marwah keilmuan di Kabupaten Probolinggo. Ia lahir pada hari penuh keberkahan, Jum’at 17 Jumadil Akhir 1379 Hijriyah, bertepatan dengan 18 Desember 1959 Masehi.
Ia dibesarkan di lingkungan keluarga religius di Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan. Desa yang tenang itu menjadi saksi bagaimana ia tumbuh sebagai anak yang tekun dalam menimba ilmu agama dan patuh kepada orang tua.
Ayahnya, H. Abdul Hannan Zain, adalah figur guru ngaji yang menjadi sandaran masyarakat dalam urusan pendidikan Islam. Beliau adalah pendiri dan pengasuh Madrasah Sirajul Ulum yang hingga kini tetap melahirkan banyak santri.
Sementara ibunya, Hj. Maimunah, adalah perempuan shalihah yang sepenuh hati mendukung suaminya dalam perjuangan dakwah. Keduanya mendidik KH. Abdul Wasik Hannan dengan kedisiplinan dan keteladanan akhlak.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, Abdul Wasik Hannan tumbuh dengan pendidikan disiplin dan penuh kasih sayang. Orang tuanya membentuk karakter keagamaannya sejak dini agar menjadi penerus perjuangan mereka dalam menyebarkan ilmu dan kemanfaatan kepada umat.
Pendidikan pesantren menjadi jalan utama bagi perkembangannya. Ia menempuh pendidikan di lembaga-lembaga pesantren terkemuka di Jawa Timur. Pertama, ia berguru di Pesantren Sidogiri Pasuruan yang dikenal sebagai salah satu pesantren tertua dengan tradisi keilmuan Salafiyah yang kuat.
Perjalanan menimba ilmu kemudian berlanjut ke Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Di pesantren yang menjadi mercusuar ilmu di Probolinggo itu, ia menemukan lingkungan intelektual dan spiritual yang makin mengokohkan kecintaannya pada ilmu agama.
Namun perjalanan ilmunya tidak berhenti di tanah kelahirannya. Pada tahun 1981, orang tuanya memberangkatkan Abdul Wasik muda ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Keberangkatan tersebut bertujuan untuk memperdalam ilmu agama di tempat lahir Baginda Nabi Muhammad SAW.
Makkah menjadi saksi pengembaraan ilmunya yang penuh berkah. Di sana ia berguru kepada para masyayikh serta memperkuat sanad keilmuan agama yang kelak akan menjadi bekal penting dalam pengabdiannya kepada masyarakat.
Setelah enam tahun bermukim di Tanah Suci, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1986. Kepulangannya disambut sebagai kebanggaan keluarga dan masyarakat desa yang menaruh harapan besar agar ia membawa manfaat bagi umat.
Tak berselang lama, setahun setelah pulangnya dari Makkah, ia memulai kehidupan rumah tangga dengan menikah. Pernikahan tersebut semakin menguatkan langkah pengabdiannya dalam dunia pendidikan dan kemasyarakatan.
Sejak itu, ia aktif mengajar di Madrasah Sirajul Ulum, lembaga pendidikan yang dirintis ayahnya. Ia pun turut mengabdi di madrasah yang didirikan oleh KH. Abdul Mu’thi Bahrawi, mertuanya, sebagai bentuk bakti kepada ilmu dan keluarga besar.
Pengabdiannya tidak hanya di jalur pendidikan, tetapi juga di Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pada tahun 1992, ia dipercaya menjadi Ketua Majelis Wakil Cabang NU Krejengan. Amanah tersebut ia emban selama dua periode lebih dengan penuh dedikasi.
Perannya secara organisatoris semakin dikenal. Di tingkat Pengurus Cabang NU Kota Kraksaan, ia memulai dari posisi Wakil Katib, kemudian dipercaya sebagai Katib selama dua periode berikutnya.
Pada tahun 2021, amanah besar datang menghampirinya. Ia didapuk sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan. Tugas tersebut ia jalankan dengan penuh tanggung jawab sebagai ulama penjaga manhaj dan marwah organisasi.
Pada masa khidmat 2025-2030, kembali ia didaulat untuk meneruskan amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Kraksaan. Kepercayaan ini menjadi bukti kuatnya penerimaan masyarakat dan para ulama terhadap sosok kesederhanaan dan ketegasan ilmunya.
Selain aktif di NU, ia juga memiliki peran strategis di Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Probolinggo. Awalnya ia dipercaya sebagai Ketua Komisi Fatwa, sebuah tugas yang sangat membutuhkan ketelitian dan kematangan ilmu.
Pada periode 2021-2025, ia mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo. Kiprahnya semakin diperhitungkan dalam merawat harmoni umat dan memberi arah keagamaan yang maslahat.
Puncaknya, pada Musyawarah Daerah IV MUI Kabupaten Probolinggo, ia terpilih sebagai Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo untuk masa khidmat 2025-2030. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu ulama rujukan penting di wilayah tersebut.
Peran yang tidak kalah monumental adalah saat ia mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Ulum pada tahun 1994. Pendirian pesantren itu merupakan perintah langsung dari gurunya, KH. Hasan Abdul Wafi, yang kala itu menjadi pengawas Pesantren Nurul Jadid.
Nama “Miftahul Ulum” merupakan pemberian sang guru, yang juga terkenal sebagai penyusun Shalawat Nahdliyah. Sebagai pendiri dan pengasuh, ia mendedikasikan hidupnya untuk santri dan masyarakat sekitar.
Kesibukannya mengasuh pesantren tidak membuatnya berhenti mengajar di tempat lain. Ia tetap menjadi pengajar di Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton, sebuah lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang menjadi pusat lahirnya ulama.
Di tengah kesibukan mengajar dan memimpin organisasi, ia juga terjun ke dunia politik kebangsaan. Pada tahun 1998, ia turut serta mendirikan dan membesarkan Partai Kebangkitan Bangsa di Kecamatan Krejengan.
Keterlibatannya di PKB bukan atas dasar ambisi pribadi, melainkan panggilan untuk mengawal aspirasi warga Nahdliyin dalam panggung demokrasi nasional. Perjuangan itu kelak mengantarkannya menjadi anggota DPRD Kabupaten Probolinggo pada Pemilu berikutnya.
Sebagai anggota legislatif, ia mengedepankan prinsip-prinsip kemaslahatan dan keberpihakan pada masyarakat kecil. Hal itu menjadikan dirinya dikenal sebagai wakil rakyat yang merakyat dan tidak berjarak.
Warisan terbesarnya adalah upaya mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkhidmah kepada agama. Ribuan santri telah mendapatkan sentuhan pendidikan dan keteladanan darinya di Pesantren Miftahul Ulum.
Sebagai ulama dan pemimpin, ia selalu menjaga konsistensi pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Prinsip tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal selalu menjadi pegangan dalam setiap langkahnya.
Dalam setiap ceramah dan pengajarannya, ia menekankan pentingnya adab sebelum ilmu, keikhlasan dalam berjuang, dan kerendahan hati sebagai kunci keberkahan hidup dan keilmuan.
Sifat disiplin yang diwarisi dari orang tua serta pengalaman panjang di dunia pesantren menjadikannya sosok berpandangan luas namun tetap membumi, dekat dengan masyarakat dan peka terhadap kebutuhan umat.
Kini, sebagai Rais Syuriyah PCNU Kraksaan masa khidmat 2025-2030, ia mengemban amanah untuk terus membimbing perjalanan jam’iyah agar tetap berada pada rel perjuangan para muassis NU.
Kepemimpinannya menjadi harapan baru bagi penguatan peran ulama di tengah dinamika masyarakat modern. Ketegasan ilmunya menjadi pegangan, sementara kelembutan hatinya menjadi peneduh dalam setiap persoalan.
Nama KH. Abdul Wasik Hannan akan selalu terukir tidak hanya dalam catatan organisasi, tetapi juga dalam hati santri dan umat yang merasakan berkah pengabdiannya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan usia penuh keberkahan dalam setiap langkah perjuangannya.


